Wednesday, July 22, 2015

Hari 3; Selasa 17 Maret 2015



""In The Lampion City""


Pukul 7:00 kami bersiap dan turun untuk sarapan. Setelah itu langsung menuju lokasi perwakilan motorvina di Hoi An, tapi setelah didatangi hanyalah berupa rumah tak terurus jadi ragu. Pelan-pelan masuk ke dalam ketemu Bapak-Bapak, gw bilang tujuan gw dan dia telepon seorang cewek, ngobrol ngalor ngidul ngak jelas terutama mengenai harga (mintaUSD10 selama di Hoi An dan USD20 ke Hue karena kita berdua) akhirnya cewek itu datang. Gw bilanglah kalau di dalem kota mah pada nawarin USD5. Akhirnya sewa satu hari di Hoi An dan 1 hari ke Hue (jadi nanti ada yang nganterin keril kita sama ambil motornya ke penginapan di Hue) dengan total USD25 (USD1 = VND21000). Mereka mematok harga dengan dolar, jadi sepertinya kita bisa bayar pakai dolar atau bayar pakai VND namun kurs dari mereka.

Kami mengendarai motor ke arah Da Nang (berpegang kepada Google maps dan anda aman) dimana jalanan lurus dengan angina yang kencang. Kalau gw yang biasa bawa mio sporty yakin deh oleng kebawa angin, untungnya goncengin temen gw dan motornya lumayan berat. Di Vietnam, kita jalan di arah kanan, kebalikan dengan di Indonesia. Awalnya gw takut awkward di jalan sampai punya mantra “kanan, kanan, kanan, ...” biar ngak salah jalan. Tapi lama-kelamaan jadi biasa aja berjalan sesuai arus yang ada di jalan haha.

OOT, selama pakai motor di Vietnma dan Laos pastinya posisi kendaraan di kanan. Nah, dua hari setelah gw pulang ke tanah air, gw main ke rumah temen gw di suatu perumahan. Keesokan paginya gw mau pulang, dengan jalanan perumahan yang sepi, masih mengumpulkan kesadaran gw, mengendarai motor di bagian KANAN!! Dan tragedy terjadi saat pertigaan, gw yang mau belok kanan, ketemu ama anak SD pake sepeda, anak SD ngerem, gw ngerem.. Wuih mentang-mentang pake sepeda jalan dimana-mana, piker gw saat itu. Kita berjalan kembali dengan gw masih di sisi jalan sebelah kanan. Beberapa meter berselang papasanlah gw dengan anak SMA pengendara motor metik. Gw yang masih kekeh di posisi kanan jalan wae, anak SMA nya yang terpaku melihat gw langsung kegok sedangkan gw merasa mulai kesal. Dari tadi kayaknya pada ambil jalur gw nih, pikir gw lagi. Lama,, gw baru sadar kalau GW yang salah jalur hahaha sumpeh, gw merasa ngak enak hati sama anak-anak sekolahan tadi, maafkan kakakmu ini ya dek.

Hal yang membuat gw stress mengendarai motor di Vietnam bukanlah jalurnya yang kebalikan, tapi ternyata pengendara motor itu sendiri. Kenapa? Tidak ada lampu merah namun jalanan yang lurusss itu mengandung perangkap!! Terdapat percabangan jalan setiap 500 meter!! Disaat bunyi klakson bersahutan bak lagu, gw yang ngak biasa mencet klakson (telinga gw pengap denger bunyinya klakson, jadi klo mau nyalip atau bener-bener urgent baru gw klakson) hanya bisa menurunkan kecepatan setiap ada belokan takut-takut tu motor tetiba masuk jalur, karena berlaku sekali hukum rimba.Sebenernya hal itu mereka lakukan untuk memberitahukan pengemudi lainnya: Hei sistah and brodah! ini nih gw ada di belakang lo, gw ada di depan lo, gw mau lewat dan lo harus kasih jalan keg w!!. Sempet beberapa kali gw mau nyerempet tapi Alhamdulillah dilapangkan jalur gw.

Marble Mountain
Menyusuri jalur pantai menuju utara tibalah kami di Marble Mountain. Yup, ini adalah objek wisata yang kudu didatengin. Terdiri atas Kim Son (Mountain of Metal), Moc Son (Mountain of Wood), Thuy Son (Mountain of Water), Hoa Son (Mountain of Fire), dan Tho Son (Mountain of Earth). Tiket masuk VND15000/orang tapi kalau mau naik lift ke atas bayar lagi, jadi kita milih nanjak tanngga terjal sekalian olahraga haha. Di lokasi ini tak tampak parkir motor, jadi kita parkir di depan toko-toko yang jualan patung dan ‘wajib’ liat-liat ke dalem tokonya, tolak dengan sopan dan bilang nanti pas pulangnya aja liatnya (tapi emang beneran kudu masuk ntar dimaki-maki kayak ‘U don’t wana see shop, pay expensive, pay USD25’ sambil melengos hellooooowwww). Kita cuman datengin Thuy Son aja karena keterbatasan waktu dan berencana mengunjungi gua Am Phu. Hampir semua spot yang ada di gunung tersebut kita jelajahi, hanya kurang spot pengamatan tertinggi saja, tapi itu sudah cukup menguras tenaga.

Linh Ung Buddhist Temple
Setelah itu kita putuskan melanjutkan berkendara ke daerah Son Tra Penisula mengunjungi “Kuil Linh Ung”. Menyusuri China Beach sepanjang jalur namun kami tidak mampir, tengah hari bolong itu ngepantai sama aja ngasih sumbangan air (keringet) buat bikin air ujan, jadi kami nikmatin aja. Sisi kanan pantai memanjang, sisi kiri pembangunan bertebaran. Bakalan ramai nih beberapa tahun lagi!! Memang dibanding Indoensia eh Jabodetabek, walaupun Da Nang termasuk kota besar, terbilang cukup sepi dan baru memulai perkembangannya. Tidak tampak gedung tinggi yang menjulang, pun mall-mall bertebaran.

Di kuil ini kita dapat melihat patung Dewi Kuan Im setinggi 67 meter dan Pagoda terbesar di Da Nang. Jika memiliki waktu bisa dilanjutkan ke viewpoint gunung Son Tra, ‘Ban Co’.

Makan
Kami makan siang susu kedelai dan snack yang dibawa dari Indonesia. Namun saat di pantai An Bang kami makan nasi goreng ikan yang ternyata terdiri dari nasi putih sepiring penuh dan satu ikan disiram minyak tomat goreng dengan 1 kelapa bulat total VND100000.

Di pantai inilah kami mendapatkn pelajaran yang sangat berarti dan membuat hati kami cenat cenut. Rencana gw memang mau menikmati sunset di pantai Hoi An, namun lokasinya di posisiti timur sehingga sunset hanya menampakkan pantulan semunya saja. Sepanjang pantai An Bang ini banyak berjejer warung seafood dimana disediakan meja-kursi. Banyak yang memanggil-manggil kami untuk parker, dikira gw itu parker umum, gw merapat di paling ujung pantai. Tetiba aja pemilik warung menawari kami dengan menu warungnya. Kami menolak secara halus karena rencananya hanya ingin menikmati pantai dengan tenang, later ya kata pemilik warung, kami tersenyum. Setelah mulai gelap, kami putuskan duduk di salah satu warung dan membeli kelapa bulat. Takdir memutuskan kami duduk di meja pinggir pantai yang karena bentuknya yang sama semua, yang gw pikir ini punya warung tadi, ternyata bukam sodara-sodari. Pemilik warung lain menghampiri kami, menyebabkan perang adu mulut antar pengguna warung. Gw kena serangan panic, gw bingung, temen gw bingung, dia bilang yaudahlah. Singkat kata, kami makan dengan ditemani kicaun ibu-ibu warung dan saat akan pulang, tuang parker menghampiri kami meminta biaya parker VND10000, kami berikan VND5000 dan saat gw mau menjalankan motor, pemilik warung menghampiri motor kami, berkata dengan bahasa ingggris yang patah-patah: keep motorbike, disappointed, blablabla dimana bagi gw, gw merasa terpojokkan, denga tampang linglung, sorry, I’m whispering then cabut aja.. dan kami berkelana dengan pikiran kami masing-masing.

No comments:

Post a Comment