Suatu masa di bulan September 2014
ketika gw posting promo free seat maskapai merah merona di jejaring sosial, ada
pesan masuk dari seorang teman lama mengajak keliling Indochina. Wahh udah lama
nih gw kagak jalan-jalan jauh, hayuklahhh.. Setelah mengecek tiap tanggal di
bulan Maret 2015 akhirnya diputuskan membeli: CGK-KUL , KUL-DAD, DMK-KUL,
KUL-CGK dengan total IDR 1.2jutaan per orang. Wahh lama yaa tanggalnya, tapi
setelah pergantian tahun, kok cepet sihh persiapan belum mateng karena tertunda
pikiran ‘bentar lagi ini’ haha (jangan ditiru). So segala keputusan di tangan
gw, jadi gw putuskan ngambil jalur: Danang-Hoi An-Hue-Phong Nha di Vietnam, Pakse
di Laos, Bangkok di Thailand, Kuala Lumpur di Malaysia.
Persiapan?
Yang utama tentu saja restu orang
tua agar lancar, jangan pernah yang satu ini ngak dapet. Mantengin peta, peta,
dan peta untuk menjaci jalur yang efisien. Setelah sekian lama mencari jalur,
kota mana saja yang disambangi, atraksi apa yang menarik hati, terciptalah
jalur di atas. Searching laporan para backpacker terbaru (beberapa rute minim
informasi karena belum ramai turis), request CS yg pada ditolakin, booking
penginapan dan tiket early bird Madam Tussand dengan bantuan CC temen.
Sempat berhembus kabar bahwa
diharuskan membayar airport tax
melalui online dari menu ‘Manage My Booking’, namun pas gw cek, ngak bisa,
haduhhh kek mana lah ini!! Pasrah aja deh gw ngantri di konter bandara. Tapi
ternyata, kesabaran berbuah manis hehe. Saat mau web check-in (love this
feature. Gw beli tiket tanpa check-in
baggage, selain hemat uang, harus gantri baik saat masukin maupun nunggu
tas keluar itu sesuatu banget. Lagian bawaan cuma sebuah keril kecil saja)
ternyata diharuskan membayar airport tax
online (ada tulisan saldo terhutang), yihaa ngak usah ngantri di bandara!!
Bawaan?
Dua pasang baju santai, sepajang
baju tidur, peralatan mandi, peralatan solat, dokumen (print bookingan,
passport, SIM), mi instan, pasta instan, kering tempe, tas punggung, dll yang
mana masuk semua ke dalam tas ransel 45 L.
Penerbangan terakhir CGK-KUL pukul
20:25 pada tanggal 15 Maret 2015 ditemani hujan rintik-rintik. Penerbangan berjalan
lancar tanpa ada delay (that’s why I
like this airline better than others). Tiba di bandara KLIA2, mulai
kebingungan. Tiket yang dipesan bukanlah tiket fly-thrugh namun tiket terpisah. Maka dari itu, masuklah kami ke
Malaysia dengan chop passport 16 Maret 2015 (sudah pukul 00:30 waktu setempat)
dimana nanti pagi kami akan masuk kembali, same
date lah ini haha. Pikirku, betapa banyaknya chop Malaysia di passport ini
ckck.
Selama menunggu penerbangan pagi
KUL-DAD pukul 9:40 kami berleha-leha di bandara plus mall yang cukup luas.
Teman saya kaget, keluar pesawat menuju pusat bandara saja butuh waktu 30 menit
haha. KLIA2 memang sebagai pengganti LCCT memiliki banyak penerbangan terutama
maskapai merah merona. Banyak sekali orang-orang yang menunggu pnerbangan
ataupun menunggu pagi untuk menghemat penginapan (oh itu kami para backpacker)
bertaburan di seluruh spot yang strategis. Lokasi istirahat teretak saat keluar
imigrasi di sebelah kanan, dapat pula naik satu lantai dan ngemper di karpet
depan toko yang tutup haha. Sangat disayangkan minim asupan listrik (siapa
cepat dia dapat), bagamanalah nasib pemilik gadget ini L (Dekat eskalator saat keluar imigrasi sebelah kanan ada telepon
umum, disitu ada 3 colokan listrik). Selama di bandara kita makan roti yang
dibawa dari Indonesia.
Free wifi di KLIA2 ada dua, milik KLIA2 dan mall
gateway KLIA2. Masing-masing hanya membolehkan waktu 2 jam dan diharuskan reconnect. Jika menggunakan wifi
bandara, bisa langsung connect. Namun
jika menggunakan wifi mall maka diharuskan mendaftarkan email terlebih dahulu.
Manurut gw, wifinya lebih lemot dibandingkan bandara Soetta dan Singapore,
mungkin karena bannyak yang pakai.
No comments:
Post a Comment