""In The Lampion City""
Pukul
7:00 kami bersiap dan turun untuk sarapan. Setelah itu langsung menuju lokasi
perwakilan motorvina di Hoi An, tapi setelah didatangi hanyalah berupa rumah
tak terurus jadi ragu. Pelan-pelan masuk ke dalam ketemu Bapak-Bapak, gw bilang
tujuan gw dan dia telepon seorang cewek, ngobrol ngalor ngidul ngak jelas
terutama mengenai harga (mintaUSD10 selama di Hoi An dan USD20 ke Hue karena
kita berdua) akhirnya cewek itu datang. Gw bilanglah kalau di dalem kota mah pada
nawarin USD5. Akhirnya sewa satu hari di Hoi An dan 1 hari ke Hue (jadi nanti
ada yang nganterin keril kita sama ambil motornya ke penginapan di Hue) dengan
total USD25 (USD1 = VND21000). Mereka mematok harga dengan dolar, jadi
sepertinya kita bisa bayar pakai dolar atau bayar pakai VND namun kurs dari
mereka.
Kami
mengendarai motor ke arah Da Nang (berpegang kepada Google maps dan anda aman)
dimana jalanan lurus dengan angina yang kencang. Kalau gw yang biasa bawa mio
sporty yakin deh oleng kebawa angin, untungnya goncengin temen gw dan motornya
lumayan berat. Di Vietnam, kita jalan di arah kanan, kebalikan dengan di
Indonesia. Awalnya gw takut awkward
di jalan sampai punya mantra “kanan, kanan, kanan, ...” biar ngak salah jalan.
Tapi lama-kelamaan jadi biasa aja berjalan sesuai arus yang ada di jalan haha.
OOT, selama
pakai motor di Vietnma dan Laos pastinya posisi kendaraan di kanan. Nah, dua
hari setelah gw pulang ke tanah air, gw main ke rumah temen gw di suatu
perumahan. Keesokan paginya gw mau pulang, dengan jalanan perumahan yang sepi,
masih mengumpulkan kesadaran gw, mengendarai motor di bagian KANAN!! Dan
tragedy terjadi saat pertigaan, gw yang mau belok kanan, ketemu ama anak SD
pake sepeda, anak SD ngerem, gw ngerem.. Wuih mentang-mentang pake sepeda jalan
dimana-mana, piker gw saat itu. Kita berjalan kembali dengan gw masih di sisi
jalan sebelah kanan. Beberapa meter berselang papasanlah gw dengan anak SMA
pengendara motor metik. Gw yang masih kekeh di posisi kanan jalan wae, anak SMA
nya yang terpaku melihat gw langsung kegok sedangkan gw merasa mulai kesal.
Dari tadi kayaknya pada ambil jalur gw nih, pikir gw lagi. Lama,, gw baru sadar
kalau GW yang salah jalur hahaha sumpeh, gw merasa ngak enak hati sama
anak-anak sekolahan tadi, maafkan kakakmu ini ya dek.
Hal
yang membuat gw stress mengendarai motor di Vietnam bukanlah jalurnya yang
kebalikan, tapi ternyata pengendara motor itu sendiri. Kenapa? Tidak ada lampu
merah namun jalanan yang lurusss itu mengandung perangkap!! Terdapat
percabangan jalan setiap 500 meter!! Disaat bunyi klakson bersahutan bak lagu,
gw yang ngak biasa mencet klakson (telinga gw pengap denger bunyinya klakson,
jadi klo mau nyalip atau bener-bener urgent
baru gw klakson) hanya bisa menurunkan kecepatan setiap ada belokan takut-takut
tu motor tetiba masuk jalur, karena berlaku sekali hukum rimba.Sebenernya hal
itu mereka lakukan untuk memberitahukan pengemudi lainnya: Hei sistah and brodah! ini nih gw ada di belakang lo, gw ada di depan
lo, gw mau lewat dan lo harus kasih jalan keg w!!. Sempet beberapa kali gw
mau nyerempet tapi Alhamdulillah dilapangkan jalur gw.
Marble Mountain
Menyusuri
jalur pantai menuju utara tibalah kami di Marble Mountain. Yup, ini adalah
objek wisata yang kudu didatengin. Terdiri atas Kim Son (Mountain of Metal),
Moc Son (Mountain of Wood), Thuy Son (Mountain of Water), Hoa Son (Mountain of
Fire), dan Tho Son (Mountain of Earth). Tiket masuk VND15000/orang tapi kalau
mau naik lift ke atas bayar lagi, jadi
kita milih nanjak tanngga terjal sekalian olahraga haha. Di lokasi ini tak
tampak parkir motor, jadi kita parkir di depan toko-toko yang jualan patung dan
‘wajib’ liat-liat ke dalem tokonya, tolak dengan sopan dan bilang nanti pas
pulangnya aja liatnya (tapi emang beneran kudu masuk ntar dimaki-maki kayak ‘U
don’t wana see shop, pay expensive, pay USD25’ sambil melengos hellooooowwww).
Kita cuman datengin Thuy Son aja karena keterbatasan waktu dan berencana
mengunjungi gua Am Phu. Hampir semua spot yang ada di gunung tersebut kita
jelajahi, hanya kurang spot pengamatan tertinggi saja, tapi itu sudah cukup
menguras tenaga.
Linh Ung Buddhist Temple
Setelah itu kita putuskan melanjutkan berkendara ke daerah Son Tra
Penisula mengunjungi “Kuil Linh Ung”. Menyusuri China Beach sepanjang jalur
namun kami tidak mampir, tengah hari bolong itu ngepantai sama aja ngasih
sumbangan air (keringet) buat bikin air ujan, jadi kami nikmatin aja. Sisi
kanan pantai memanjang, sisi kiri pembangunan bertebaran. Bakalan ramai nih
beberapa tahun lagi!! Memang dibanding Indoensia eh Jabodetabek, walaupun Da
Nang termasuk kota besar, terbilang cukup sepi dan baru memulai
perkembangannya. Tidak tampak gedung tinggi yang menjulang, pun mall-mall
bertebaran.
Di kuil ini kita dapat melihat patung Dewi Kuan Im setinggi 67 meter
dan Pagoda terbesar di Da Nang. Jika memiliki waktu bisa dilanjutkan ke
viewpoint gunung Son Tra, ‘Ban Co’.
Makan
Kami
makan siang susu kedelai dan snack yang dibawa dari Indonesia. Namun saat di
pantai An Bang kami makan nasi goreng ikan yang ternyata terdiri dari nasi
putih sepiring penuh dan satu ikan disiram minyak tomat goreng dengan 1 kelapa
bulat total VND100000.
Di
pantai inilah kami mendapatkn pelajaran yang sangat berarti dan membuat hati
kami cenat cenut. Rencana gw memang mau menikmati sunset di pantai Hoi An,
namun lokasinya di posisiti timur sehingga sunset hanya menampakkan pantulan
semunya saja. Sepanjang pantai An Bang ini banyak berjejer warung seafood
dimana disediakan meja-kursi. Banyak yang memanggil-manggil kami untuk parker,
dikira gw itu parker umum, gw merapat di paling ujung pantai. Tetiba aja
pemilik warung menawari kami dengan menu warungnya. Kami menolak secara halus
karena rencananya hanya ingin menikmati pantai dengan tenang, later ya kata
pemilik warung, kami tersenyum. Setelah mulai gelap, kami putuskan duduk di
salah satu warung dan membeli kelapa bulat. Takdir memutuskan kami duduk di
meja pinggir pantai yang karena bentuknya yang sama semua, yang gw pikir ini
punya warung tadi, ternyata bukam sodara-sodari. Pemilik warung lain
menghampiri kami, menyebabkan perang adu mulut antar pengguna warung. Gw kena
serangan panic, gw bingung, temen gw bingung, dia bilang yaudahlah. Singkat
kata, kami makan dengan ditemani kicaun ibu-ibu warung dan saat akan pulang,
tuang parker menghampiri kami meminta biaya parker VND10000, kami berikan
VND5000 dan saat gw mau menjalankan motor, pemilik warung menghampiri motor
kami, berkata dengan bahasa ingggris yang patah-patah: keep motorbike, disappointed, blablabla dimana bagi gw, gw merasa
terpojokkan, denga tampang linglung, sorry,
I’m whispering then cabut aja..
dan kami berkelana dengan pikiran kami masing-masing.